World News

Ning Festin dan Ning Nasya; Bertahan di Pojok Kampung JTV

Friday, August 12, 2011

Istilah Aneh Sering Bikin Terpingkal Sendiri

Siaran berita bahasa Suroboyoan Pojok Kampung JTV meraih penghargaan dari Surabaya Heritage sebagai salah satu pusaka bangsa. Program andalan televisi Satus Persen Jatim tersebut dinilai melestarikan boso Suroboyoan.

SEKARING RATRI-ASTANTO

berita pojok kampung jtvSugeng dalu derek, yo opo kabare? Bengi iki JTV nyopo riko maneh lewat berita boso Suroboyoan, Pojok Kampung. Logat medok itu keluar dari Ning Festin yang menyapa pemirsa JTV tiap malam pukul 21.30. Pembaca berita berkacamata tersebut dengan fasih membawakan berita itu selama 30 menit.

Penampilannya serius dan formal seperti umumnya pembawa berita di televisi. Tak banyak yang tahu, di balik tampang seriusnya itu, dia menahan tawa karena mengucapkan istilah-istilah lucu dan terdengar aneh. ''Ketawa saya baru meledak ketika giliran tayangan iklan diputar,'' kata penyiar bernama asli Festine Rohrich itu. Bukan hanya dia, kru Pojok Kampung lainnya juga ikut terpingkal.

Wanita blasteran Belanda-Kediri tersebut mengaku tidak mudah membawakan berita khas JTV itu. Lima tahun lalu, kali pertama siaran, Festin kerap tergelak ketika mendengar voice over editing (suara reporter di lapangan) ketika berita disiarkan.

Dia juga sering sakit perut karena menahan tawa mendengar istilah aneh yang baru dikenal. Misalnya, empal berewok atau njeketek. Pendengar setia Pojok Kampung pasti tahu, empal berewok adalah istilah untuk menyebut alat kelamin wanita.

Hal-hal kecil seperti itu ternyata membuat ibu satu putra tersebut bertahan di Pojok Kampung. Hanya, dia sedikit resah. ''Pojok Kampung mungkin punya ribuan pemirsa. Namun, kritik yang datang juga tidak sedikit,'' ungkapnya.

Tak jarang, acara yang disiarkan langsung itu mendapat teguran karena penggunaan istilah yang dianggap kurang sopan. ''Istilah yang kami gunakan memang terdengar aneh, namun tidak mesum. Dalam bahasa Indonesia, kata penis mungkin terdengar biasa. Itu hanya masalah kebiasaan,'' jelas wanita yang kerap menjadi MC acara-acara pernikahan tersebut.

Kritik-kritik itu, kata Festine, ada kalanya membangun, tapi kadang juga tidak pada tempatnya. ''Sebenarnya, saya senang banyak orang menggemari acara saya karena lucu. Tapi, di lain pihak, saya ingin mereka tahu bahwa nggak mudah membaca berita dalam bahasa Surobyoan,'' tegasnya.

Dia lantas mengungkapkan pengalamannya beberapa kali mengetes calon pembaca berita Pojok Kampung. ''Mereka umumnya gagal pada tahap seleksi awal, yaitu reading naskah berita,'' ujarnya.

Para calon tersebut, kata pengoleksi buku dan VCD anak-anak itu, sering salah mengucapkan kata, sehingga menimbulkan perbedaan arti. ''Misalnya, kata diteleki yang seharusnya huruf e di depan lebih ditekankan, dibaca apa adanya. Jadinya, artinya bukan dicari seperti yang dimaksud dalam naskah. Tapi diteleki yang artinya -maaf- kejatuhan tai (kotoran, Red),'' ungkapnya lantas tersenyum.

Karena itu, Festine sangat bersyukur Pojok Kampung memperoleh penghargaan dari Surabaya Heritage pada Senin (7/7) di JTV. ''Penghargaan itu bisa dibilang salah satu pembuktian bahwa Pojok Kampung adalah aset Jatim,'' katanya.

Kini, Festine sudah menjadi ikon Pojok Kampung yang punya rating tinggi itu. Ketika rekan-rekan seprofesinya di JTV memilih mengejar impian yang lebih tinggi, wanita 29 tahun tersebut tetap setia di Pojok Kampung. ''Kalau membawakan berita bahasa Indonesia kan sudah biasa, saya lebih suka yang beda,'' ujar wanita kelahiran 24 Januari 1979 tersebut.

Karena Pojok Kampung itu pula Festine banyak dikenal orang. Tak jarang, ketika belanja, dia mendapat diskon khusus dari sang penjual yang kebetulan penggemar Pojok Kampung. Bahkan, beberapa kali dia diwawancarai stasiun TV swasta nasional berkat siaran berita yang dipandunya tersebut.

''Saya senang jika pemirsa menyukai siaran yang saya bawakan. Mereka tertawa, itu menunjukkan tertarik pada acara saya,'' kata wanita yang juga seorang dokter tersebut.

Putri pasangan Ernst Wladimir Rohrich dan Sylvia Maureen itu mengawali karir di JTV saat masih kuliah pada 2002. Acara pertama yang dipandu adalah program berita terkini, Berita Gress. Selanjutnya, ibu Eusebius Rifean Rohrich tersebut beralih ke program lawakan bahasa Jawa, Kentrung Funky.

Dari situ, pihak JTV mulai melihat bakat Festine berbahasa Jawa ngoko maupun boso. Wanita yang fasih berbahasa krama inggil itu pun ditawari mengisi program siaran berita Pojok Kampung episode perdana. Setelah menjalani serangkaian casting, wanita penyuka warna biru dan hitam itu pun terpilih.

Bagaimana dia bisa fasih boso Suroboyo? Ketika menjadi finalis Ning Surabaya 2001, dia harus menjalani masa karantina untuk pemilihan Cak dan Ning. Salah satu pelajaran dalam masa karantina tersebut adalah pemakaian bahasa pakem Suroboyo. Bahasa pakem itulah yang dia praktikkan di Pojok Kampung.

Selain Festine, sebetulnya ada beberapa pembawa berita lain dalam program tersebut. Namun, tak bertahan lama. Sejak enam bulan lalu, Festine punya teman. Dialah Ning Tasya. ''Aku nggak kesulitan membawakan Pojok Kampung karena aku asli Surabaya,'' katanya.

Meski begitu, kadang ada kata-kata yang tak dia kenal dalam naskah berita. ''Sebab, kata-kata itu tidak diambil dari boso Suroboyoan saja, tapi dari daerah se-Jawa Timur,'' ungkap pemenang favorit Cak dan Ning 2006 itu.

Tak berbeda dari Festine, mahasiswi semester IV Hubungan Internasional Unair itu kadang juga menahan tawa saat menemukan istilah-istilah yang terdengar aneh seperti hohohihe. ''Semula saya gak ngerti apa artinya hohohihe,'' ujar gadis berambut panjang tersebut. Itu adalah istilah Pojok Kampung untuk orang yang -maaf- berhubungan intim.

Agar tak tertawa saat siaran, dia biasanya menyiasati dengan membaca naskah lebih dulu sebelum siaran. ''Kalau lucu, aku tertawa terbahak-bahak bersama kru yang lain,'' katanya lantas tersenyum. Saat siaran, dia mencoba tidak tertawa. ''Syukur selama ini aku bisa menahan tawa,'' ungkapnya.

Pemilik nama lengkap Natasha Karina Ardiani itu mengaku enjoy membawakan Pojok Kampung. ''Krunya ramah, baik, dan lingkungannya kekeluargaan,'' tegasnya.

Lebih dari itu, Pojok Kampung merupakan salah satu bentuk awareness budaya Surabaya. ''Dengan Pojok Kampung itu, masyarakat bisa lebih kenal dengan bahasa yang hampir punah ini,'' kata gadis kelahiran 27 Januari 1990 tersebut.

Sebelum tampil di Pojok Kampung, Tasya banyak dikenal. Dia Ning Favorit 2006. Sejak dua bulan lalu, dia juga cuap-cuap di Colors Radio sebagai penyiar. Hanya, bukan sebagai Ning Tasya, tapi Tasya Karina.

Bedanya dari siaran di radio, presenter TV lebih memerlukan kesiapan. ''Presenter TV berhadapan dengan kamera. Jadi, tingkah laku harus ditata sebaik mungkin. Kalau di radio, kita bisa lebih komunikatif, ekspresif, sehingga interaksi antara pendengar dengan penyiar lebih enak,'' jelasnya.

Meski tergolong baru, Tasya tidak canggung di depan kamera. Padahal, ''Aku gak ada persiapan sebelumnya. Aku ditawari jadi presenter, aku coba, terus ya sampai sekarang.''

Selama enam bulan menjadi pembawa berita Pojok Kampung, Tasya tak jarang menghadapi gojlokan dari teman-teman kampusnya. ''Kadang ejekan dari teman-teman yang membahas atau mengkritik istilah-istilah di Pojok Kampung. Tapi, hal itu tidak menjadi masalah. Malah bisa menjadi masukan,'' ungkapnya.

Dia senang Pojok Kampung mendapat penghargaan dari Surabaya Heritage. Itu berarti Pojok Kampung dipercaya dalam melestarikan budaya boso Suroboyoan.

Dia berharap ke depan Pojok Kampung tetap menjadi media informatif, lebih berguna bagi masyarakat, dan lebih edukatif. ''Tentunya juga tetap melestarikan bahasa Suroboyoan dan Jawa Timuran,'' tegasnya.

Selain itu, perlu membuat format baru dalam siaran. ''Agar lebih fun, cheerful, dan tidak kaku. Misalnya, dengan presenter dua orang. Dengan begitu, suasana jadi lebih hidup,'' ujar gadis cantik itu

0 comments:

Post a Comment